Asset Berharga Itu Bernama Amanah

2 comments 409 views

asset-berharga-itu-adalah-amanah

Ini sebuah kisah yang menimpa seorang teman. Bagaimana sebuah amanah menjadi asset berharga…

Sekitar tahun 2000an dia (teman saya) ikut bekerja kuli bangunan dengan berpindah-pindah tempat proyek, dari satu kota ke kota yang lainnya. Seiring berjalannya waktu dia mulai dipercaya oleh mandor untuk mengkoordinir semua tenaga kuli. Memang ada kemampuan lebih dari teman saya ini. Dia mampu dengan cepat belajar tentang ilmu bangunan; dari mulai merencanakan, membaca gambar, menganalisa anggaran, melobi anak buah dan bahkan melobi kanan-kiri apabila proyek pembangunan ada hambatan atau gangguan.

Berlalu sudah sekitar 2 tahun dia menjadi kepala kuli, tepatnya di tahun 2002 dia mendapat promosi dari manajemen pusat untuk memegang salah satu proyek pembangunan di beberapa kota. Dan berkat pengalamannya belajar dari bawah dan dari nol, dia mampu meng-eksekusi proyek tersebut dengan tepat waktu dan tepat sasaran sesuai yang diharapkan manajemen.

Melihat prestasi ini akhirnya pihak manajemen berkali-kali mempercayakan proyek bangunan ke tangan dia. Semuanya berjalan mulus dan berkualitas. Tenaga kulipun semakin banyak yang ikut dengan dia, seiring bertambahnya proyek-proyek yang dipercayakan.

Dari daerah satu ke daerah yang lain, dari proyek satu ke proyek yang lain.. semua dia jalani dengan serius, amanah dan kerja keras. Hingga tak terasa dia sudah menjalaninya sekitar 5 tahun.

Singkat cerita tepat di tahun 2007, dia mulai melupakan sesuatu yang berharga.. yaitu amanah. Kepercayaan atasan (manajemen) dan bawahan (anak buah) telah membuat dia terbuai, merasa aman dan seolah bisa melakukan apapun. Dan.. inilah awal syetan meracuni dan meng-arahkan pikiran dan raganya pada hal-hal yang sudah keluar dari track yang benar.

Di tahun tersebut, mulailah dia berbuat curang dan tidak amanah. Dia mulai mempermainkan anggaran, dia mulai mengurangi kualitas bangunan, dia mulai eksekusi proyek tidak sesuai dengan planning, dia mulai menyalah gunakan sebagian bahan bangunan dan menggunakan uang tenaga kerja (tenaga kuli) untuk kepentingannya.

Kejadian ini berulang-ulang dia lakukan, semuanya aman dan membuat dia semakin menggila.. menodai kejujuran yang sudah dia bangun bertahun-tahun. Kendaraan, tanah dan barang-barang mewah lainnya dengan mudah dia dapatkan.. dia kira itulah asset berharga yang harus dia kumpulkan.

Serapih apapun menyimpan kebusukan pasti akan tercium juga. Tepat di tahun 2008, para kuli bangunan bergejolak karena uang makan dan uang kerja sering tidak dibayar tepat waktu.. bahkan sering dipending tanpa alasan. Berkumpullah para kuli membahas semua itu. Satu persatu dari mereka memberikan kesaksian akan kebusukan pimpinannya itu. Dari mulai penggelapan bahan bangunan, pengurangan kualitas bangunan dan lain sebagainya. Hingga akhirnya sepakatlah mereka untuk membawa semua ini ke manajamen tingkat atas.

Akhirnya diterimalah laporan para kuli tentang kelakuan teman saya ini. Manajeman pun membentuk tim khusus untuk investigasi lapangan. Bukti demi buktipun terkumpul tanpa terbantahkan. Hingga puncaknya dengan sangat tidak hormat teman saya dipecat, bahkan harus mengembalikan sebagian anggaran yang sudah dipakai secara pribadi. Ini yang kemudian dia menjual semua asset yang sudah dikumpulkan selama ini.

Sejak tahun 2008 tersebut dia menjadi pengangguran, kerja serabutan tak tentu penghasilan…

Sejak tahun itu pula dia kehilangan kepercayaan dari orang-orang. Mencoba ikut lagi di proyek-proyek bangunan pun tidak ada yang menerima, meski hanya menjadi seorang kuli. Sekarang tahun 2016, hampir 8 tahun dia menjadi pengangguran tak jelas pekerjaan, tersiksa himpitan ekonomi, ternyata mengembalikan kepercayaan itu sulit dan butuh waktu lama.

Sahabat-sahabatku semoga ini menjadi pelajaran berharga. Asset berharga dalam hidup ini adalah amanah. Kita bisa menjadi mulia dan dimuliakan hanya karena bisa menjaga amanah. Tapi kita juga bisa hina dan dihinakan hanya karena tidak amanah.

Kalau sudah tercebur dalam lumpur tidak amanah, sungguh sulit untuk membersihkannya. Jangan biarkan kejujuran yang kita bangun bertahun-tahun menjadi lenyap dalam sekejap hanya karena tidak amanah dalam hitungan singkat.

Lihat para pejabat atau wakil kita di majelis kehormatan, bagaimana mereka menjadi terhormat dimata masyarakat.. tapi, menjadi hina dan dihinakan masyarakat ketika mereka tidak amanah. Hindari.. hindari, jangan sampai kita ternoda, jangan sampai keluarga kita ikut menanggung beban..

Semoga Alloh senantiasa memenuhi hati kita dengan syukur… sehingga tidak ada sedikitpun syetan masuk memabawa bisikan kufur.. aamiin..

author
Penulis: 
Catatan Sederhana Kang Aef
  1. author

    Cepi Ali Anwari1 tahun ago

    Alhamdulillah..
    Membacanya menjadikan diri lebih waspada akan bisikan “jalur kiri” dengan segala “tipu daya” belaka agar meruntuhkan iman dan menggoyahkan amanah. Terimakasih sudah membagikan pengalaman berharga ini khususnya kpd saya yg baru saja membaca kisah di atas. Umumnya hikmah utk rekan-rekan pembaca lain. Semakin yakin akan Janji Allah yang tidak perlu di uji. 🙂

    Balas
    • author
      Penulis

      Kang Aef1 tahun ago

      Keren kang… Iman itu percaya… Sudah simpel dan singkat…

      Balas

Tinggalkan pesan "Asset Berharga Itu Bernama Amanah"