Kisah Insan Dan Air Mata Orang Tua

Tidak ada komentar 250 views

Ini kisah seseorang yang saya kenal. Untuk menjaga nama baiknya saya tidak akan menyebutkan nama, sebut saja namanya “Insan”.

Sejak menikah Insan memiliki usaha yang sangat bagus, setidaknya ada dua bisnis yang dia jalankan. Perlahan tapi pasti dia menapaki bisnisnya menjadi sebuah bisnis menjanjikan dan menjadi lapangan pekerjaan bagi orang lain. Dua bisnisnya adalah optik (jasa pembelian dan pemasangan kacamata optik) dan showroom motor.

Optik dia bangun dengan susah payah, dari mulai menjadi karyawan hingga akhirnya dia sisihkan penghasilan untuk membeli peralatan optik. Prosesnya cukup panjang, bertahun-tahun dia jadi karyawan optik dan itu menjadi pengalaman berharga untuk mengenal dan belajar bisnis tersebut. Akhirnya dengan pengalaman tersebut dia mulai sembunyi-sembunyi membuka jasa optik sendiri dan mengajak 2 orang temannya untuk menjalankan bisnis tersebut.

Singkat cerita, bisnis sembunyi-sembunyi nya maju. Konsumen semakin banyak dan alasan ini pula yg membuat dia keluar dari pekerjaannya. Insan pun meneruskan bisnis optik pribadinya dengan kemudian merekrut sekitar 5 karyawan. Semuanya berjalan mulus, konsumenpun semakin bertambah.

Dalam proses menjalankan bisnis optiknya, dia kedatangan seorang teman waktu sekolah. Si teman mengajak Insan bekerjasama dalam rencana bisnisnya. Bisnis penjualan motor. Sebuah bisnis yg menjanjikan karena pada tahun tersebut pengguna sepeda motor mulai menjamur (sekitar tahun 2000-an).

Kerjasama bisnispun terjalin, hingga kemudian berdiri showroom motor sederhana, menjual salah satu produk motor ternama ditambah produk motor pilihan merk Cina (zaman tersebut lagi nge-hits model motor Cina yang di mirip-miripkan dengan produsen motor-motor ternama).

Kedua bisnisnya maju dan makin berkembang, hingga Insan bisa membeli rumah. Istri dan anak-anaknya sangat terjamin secara financial.

Namun, sangat disayangkan Insan melupakan orang-orang hebat yang selalu mendo’akannya tanpa pamrih. Orang yang selalu meneteskan air mata di atas sajadahnya, meminta perlindungan untuk Insan. Mereka adalah ibu dan bapaknya Insan.

Tak sedikit Insan membuat hati ibunya ter-iris dan menangis. Terlalu sering Insan membuat bapaknya menahan emosi atas kelakuan Insan. (Maaf saya tidak bisa menyebutkan secara rinci perlakuan Insan pada orang tuanya, ini demi ibroh dengan tetap menjaga kehormatan saudara kita).

Insan melupakan bahwa ridho Alloh ada pada ridho orangtuanya. Skenario Alloh pun berlaku. Sekitar tahun 2008-an. Ketika bisnisnya makin menanjak dan mengkilap. Makin matang dan diperhitungkan di persaingan bisnis motor, karena sudah punya branding selama sekitar 8 tahunan. Saat itulah Alloh hantam sehancur-hancurnya semua usahanya.

Tiba-tiba Insan terlibat hutang ratusan juta, teman sekolahnya yang sedari awal bermitra dengannya telah menusuk dari belakang. Asset showroom motor telah dijadikan jaminan hutang oleh teman sekolahnya tersebut. Uang pinjamannya yang menggunakan bukan Insan tapi yaa temannya tersebut. Dia kabur membawa uang tersebut. Otomatis showroom miliknya diambil untuk menutupi sebagian hutang tersebut.

Di waktu yang bersamaan Insan tertipu oleh investasi MLM yang sedang menjamur kala itu. Ia rugi puluhan juta yang kemudian memaksanya kehilangan rumah, emas dan tabungan. Dan menghentikan usaha optiknya.

Insan benar-benar nol, tak punya apa-apa. Malah hidupnya tidak tenang karena setiap hari dikejar debt collector untuk melunasi sisa-sisa hutangnya. Dia lari sana-sini, sembunyi kemana-mana, sampai kemudian berita ini sampai ke telinga orang tuanya. Insan pun tengah malam dijemput oleh orang tuanya dari persembunyiannya, dan dibawa pulang ke rumah.

ridho orang tua

Lihat kasih sayang orang tua pada anaknya. Bapaknya menghadapi debt collector, dan berkata : “Jangan lagi kejar anak saya, saya akan melunasi semua sisa hutang anak saya, dan saya sendiri yang menjadi jaminannya”.

Tanah dan sawah milik orangtuanya akhirnya dijual untuk menutupi semua sisa hutang tersebut. Bahkan sebagian tanah halaman rumah orang tuanya sudah bukan lagi milik mereka karena terjual.

Setelah kejadian tersebut, bertahun-tahun Insan hidup sederhana bersama orang tuanya dan memboyong anak dan istrinya. Pekerjaannya serabutan, kadang ikut kuli bangunan, kadang ikut kuli di sawah dan pekerjaan-pekerjaan kasar lainnya. (Semoga Alloh mengangkat lagi derajatnya, dan merubah hidupnya menjadi lebih baik lagi..aamiin)

Ini adalah pelajaran berharga untuk kita. Mau hancur atau mau sukses yaa ada di ridho orang tua….

Semoga kita semua mampu dan bisa memuliakan orang tua kita. Kalau belum sanggup memberi dan membahagiakannya, minimal jangan lagi merepotkan dan membebani hidupnya…

“Yaa Robb, angkat derajat orang tua kami dunia wal akhirat… Berikan jaminan surga untuk mereka. aamiin…”

author
Penulis: 
Catatan Sederhana Kang Aef

Tinggalkan pesan "Kisah Insan Dan Air Mata Orang Tua"