Interest, Fokus dan Prioritas

Tidak ada komentar 250 views

Sudah seminggu pastinya, saya berada dalam kondisi gagal fokus. Hari-hari melewati aktivitas dengan “zonk value”. Ada yang dikerjakan, ada yang dilakukan, ada yang digarap… Tapi ga ada yang beres. Seakan otak, tangan, hasrat, ide dan planning tak berjalan beriringan. Aneh kan, iya aneh.. parah nich gue..!!!

Banyak interest yang seakan menjadi rantai, mengikat action. Parahnya semua itu berlarut-larut hingga saya ketinggalan banyak hal. Ketinggalan oleh temen-temen di kereta bisnis. Kesalip temen-temen di kereta tugas akhir pendidikan. Macet diantara kereta sosial. Wah error pokoknya.. Dan yang memalukan saya ga faham penyebabnya.. haduuuuh.

interest

Barbara Sher, seorang penulis dan career coach dalam bukunya yang berjudul I Could Do Anything If I Only Knew What it Was and Refuse to Choose. Dia menceritakan tentang “scanner type”. Dan cirinya saya banget.. khusus untuk saat ini yaaa…

Di muka bumi ini para scanner itu ternyata banyak banget…

Banyak scanner di dunia ini yang seumur hidup ngerasa ada yang salah dengan diri mereka. Karena mereka punya banyak banget interest, mereka jadi indecisive banget untuk nentuin mau jadi apa. Bahkan, banyak scanner yang di diganosis mengidap penyakit Attention Deficit Disorder (ADD)* (*Raisa Nabila from Ziliun).

ADD terjadi ketika ada disfungsi pada sistem yang mengaktifkan retikuler dalam otak, yaitu bagian dari sistem saraf pusat tubuh. Daerah ini bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan informasi dari satu bagian otak ke bagian lain melalui norepinefrin, karena informasi eksternal. Ketika terganggu, ada stimulasi berlebihan menyebabkan pikiran menjadi bekerja terlalu keras dan tidak mampu mengatasi, menyebabkan kurangnya fokus dan gejala lainnya.

Waduuuh, ga dech !!! ini bukan tipe saya. Ini hanya ada yang salah saja dengan “temporary personality”. Dan kesalahan terbesarnya adalah saya ga bawa seabrek interset ini keatas sajadah. Baru ngeuh, kalo di sebagaian munajat ga cerita ini ke Alloh.

Lha ngapain cerita, Dia kan Maha Tau? oo iya Dia pasti tau, tapi kan terkadang kita perlu pengakuan bahwa kita lemah dan hanya Dia yang mampu. Bukankah hakikat berdo’a itu yaa seperti itu? Ibadah, amal sholeh, pengakuan, pengharapan dan sandaran, bahkan penegasan bahwa kita hamba dan Alloh Tuhannya.

Akhirnya saya pun ingat dengan kisah seorang teman mengenai rumus “membongkar lemari”… Tujuan awalnya membereskan pakaian, tapi karena nemu foto, nemu dokumen dan lain-lain.. eeh malah menghabiskan waktu dengan melihat-lihat dulu foto. Atau malah membaca-baca dulu dokumen. Merapihkan pakainnya? yaa tertunda, hingga akhirnya waktu berlalu…

Sayapun ingat dengan kejadian seorang sahabat yang pernah datang menceritakan seabrek pilihan hidupnya. Waktu itu saya buat rumus skala prioritas dengan pendekatan emosional, logika dan rasa. Kenapa itu tidak saya terapkan sekarang…

Akhir tulisan ini saya mau bertanya : Anda sedang seperti saya? Ayoo kita gunakan rumus “objective fokus” dan “priority scale” dengan melibatkan Sang Maha Tau, agar kita tidak lagi merasa sok tau…heee.

author
Penulis: 
Catatan Sederhana Kang Aef

Tinggalkan pesan "Interest, Fokus dan Prioritas"