Merenda Kabut

Tidak ada komentar 181 views

merenda kabut

Air suci itu membentuk kaligrafi yang indah di lekukan tubuhmu. Aku bingung mengapa kau halalkan kulit putihmu di buramnya puluhan pasang mata zhohir. Membiarkan rinai hujan melepas busanamu di tempat yang suci ini. Lihat tubuhku terbakar merenda kabut. Menyulam jarak. Serasa ragamu menjilati nafsu yang bergemuruh. Tuhan, aku salah mengawini badannya dengan jiwaku. Dia juga salah menyetubuhi para lelaki dengan raganya. Tuhan, terima imanku yang mengemas dzikir. Terima juga sujudnya sebagai cermin dzikir…

Bukankah dzikir dikemas dengan iman ? Meski kamu menjadi mata panah tajam, melesat menancapkan memori pada otak yang berhalusinasi. Bercengkerama dengan liar diantara puzzle imajinasi. Biarkan saja karena itu adalah proses..

Aku masih disini bersama para pria itu. Kita sama-sama menjadi robot yang tergerak oleh iman. Dan diapun adalah wanita yang menyalakan lilin, meski redup bahkan padam karena angin berhembus kencang, yaa tetap saja dia telah berjalan perlahan, tujuannya yaa cahaya…

Kelak tempat berkumpulnya para malaikat ini menjadi saksi betapa iman itu mencumbui seorang wanita yang mempertontonkan keindahan tubuhnya, dan itu jauh lebih baik dibandingkan kaum telanjang yang mencerai beraikan iman. Dan kelak pula para pria termasuk aku akan memahami betapa surga dan neraka tidak memandang kasta.

Sekali lagi, Tuhan, terima imanku yang mengemas dzikir. Terima juga sujudnya sebagai cermin dzikir…

author
Penulis: 
Catatan Sederhana Kang Aef

Tinggalkan pesan "Merenda Kabut"