Padepokan Bara Cinta

Tidak ada komentar 37 views

Kepolosan wajahnya memancarkan kejujuran. Ciri khasnya adalah tanggung jawab pada setiap beban yang dia pikul. Energi perjuangan hidupnya selalu terasa ketika dia bekerja, apapun pekerjaannya. Sepintas itulah yang tergambar dibalik sosoknya, sosok seorang pria yang tidak pernah mengeluh. Penampilannya sederhana, dia selalu welcome dengan siapapun, kehadirannya bukan ancaman melainkan kenyamanan. Banyak orang menyukainya, keikhlasannya membantu siapa saja menjadi magnet yang menarik dengan kuat simpati orang banyak. Namanya Neeur, pria miskin yang terlahir dari seorang ibu yang kesehariannya sebagai pembantu. Bapaknya adalah tenaga kuli bangunan yang tidak jelas penghasilannya.

Neeur adalah anak ke tiga dari lima bersaudara. Karena orangtuanya sudah terlalu berat menghidupi anak-anaknya, maka Neeur tinggal bersama neneknya. Menempati sebuah rumah kumuh. Dinding rumah dari anyaman bambu yang sudah bolong-bolong. Lantainya hanya tanah merah tanpa ada hamparan semen apalagi keramik mengkilap. Sekolahnya hanya sampai Sekolah Dasar (SD). Di usia teman-temannya berjibaku dengan buku pelajaran di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), dia berjibaku dengan banting tulang dan peras keringat untuk sekedar bisa makan dan memberi secercah hidup bagi neneknya.

Menginjak usia 18 tahunan Neeur memutuskan untuk menikah muda. Dia menikahi perempuan sederhana yang baru lulus sekolah lanjutan pertama. Dengan hanya bermodalkan uang hasil pinjaman dari Barra, salah satu temannya yang bekerja sebagai tukang pahat ukir kayu, pernikahan itu berlangsung.

Neeur bangun rumah cintanya dengan kejujuran, tanggung jawab dan kasih sayang. Dia memang orang yang teruji mental dan fisiknya, padahal usianya masih muda. Hantaman kesusahan bertubi-tubi menerjang biduk rumah tangganya. Dari mulai tidak punya beras untuk makan hingga ujian berupa kehilangan buah hatinya yang baru berusia kurang dari dua bulan. Semua kesusahan tersebut bukan membuat Neeur lemah melainkan semakin menguatkan hatinya. Ujian datang tanpa henti-hentinya, namun senyumnya tetap mengembang lebar menunjukan kelapangan hatinya.

 Neeur memang kuat. Kesusahan hidup sepertinya menjadi harmoni indah yang dia rasakan. Namun, berbeda dengan istrinya. Jiwa dan raganya sudah merasa lelah menjalani keseharian dengan kemiskinan. Hatinya tidaklah tangguh untuk menunggu kebahagiaan itu tumbuh.

Hingga suatu waktu, episode ini harus terjadi. Episode dimana cinta yang Neeur bangun harus roboh tanpa sisa, tanggung jawab yang selama ini diperjuangkan menjadi sampah tanpa nilai. Istrinya yang selama ini melangkah beriringan, berbelok arah mencari jalan lain, jalan yang dia anggap lebih indah tanpa kerikil tajam. Kerikil kemiskinan.

Hari itu, istrinya membawa seorang pria ke rumah. Memperkenalkannya dengan tanpa hijab rasa malu.

“Kenalkan ini calon suamiku yang baru !!”, istrinya memperkenalkan. Kedua tangan pria ini bersalaman. Neeur tersenyum, tanpa ada rasa marah dari raut wajahnya.

“Selamat yaa… Dan mulai hari ini dan detik ini juga aku lepaskan semua ikatan denganmu. Bismillah, aku ridho karena Allah. Aku talak kamu. Aku talak kamu. Aku talak kamu. Dan telah jatuh talak tiga untukmu”, Neeur dengan tegas berujar

Sejak saat itulah Neeur menjadi seorang duda muda. Harinya masih saja dia lewati dengan tanpa beban. Bekerja seperti biasa. Di sawah, ladang, kuli bangunan atau sekedar membantu jualan beberapa pedagang di kampungnya. Dia jalani semuanya dengan penuh cinta. Dan cinta itulah yang membuat dia tak pernah merasa terhimpit padahal dalam keadaan sempit. Tak jua lelah meski kepahitan membebaninya.

Barra sahabat yang selalu menjadi cawan curhatnya, sangat memahami keadaan Neeur. Terkadang Barra hanya bisa mengelus dada menapaki kisah sahabatnya ini. Manusia tanpa berkeluh kesah, dia selalu bilang bahwa hidup ini hanya panggung pewayangan. Setiap jasad manusia adalah wayang yang telah diatur dan digerakkan oleh dalang Sang Raja Manusia. Pasrah dan tetap bertawakal saja kuncinya. Mau berontakpun tidak mempengaruhi ketetapan-Nya. Nikmati saja episode demi episodenya.

Empat tahun berlalu. Barra tidak tahu lagi bagaimana kisah kehidupan Neeur. Semenjak Barra pindah bekerja ke kota lain, membuatnya hilang kontak dengan Neeur. Hingga suatu waktu, Barra menerima sepucuk surat dari Neeur…

“Teman, masih ingat denganku? Aku adalah kejujuran, tapi di tusuk dari belakang oleh istriku. Aku adalah tanggung jawab  tapi dilemparkan hina oleh istriku. Aku adalah kesabaran tapi di injak-injak oleh istriku.

Tapi perlu kamu tahu, semua ini terjadi bukan karena aku jujur, tanggung jawab atau sabar… bukan karena itu. Aku dicampakkan hanya satu penyebabnya, karena aku ‘miskin.

Dan sekarang tahukah aku seperti apa? Aku masih kejujuran yang dihormati istri baruku, masih tanggung jawab yang dimuliakan istri baruku, masih kesabaran yang menuai surga dari istri baruku.

Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya menangis, ketika hamba itu tersenyum menerima goresan cinta-Nya. Dan bukti cinta-nya telah mengantarkan aku damai dalam cinta yang indah, sangat indah.. ”

Membaca pesannya, membuat Barra merindukan sosok pria ini. Haru semakin menusuk ketika terlihat fotonya dengan istri barunya. Ternyata istri barunya adalah seorang wanita dengan anggota tubuh yang tidak sempurna. Wanita bersahaja dengan memiliki satu tangan. Wanita sholehah yang setiap harinya berada diatas kursi roda, kakinya lemah karena lumpuh. Dia telah dikarunia seorang anak yang di usianya baru menginjak 2 tahun sudah hafal juz ke-30 dari surat Al-Quran.

Barra tak kuasa menahan air mata. Dia mengambil kertas putih dan mulai menuliskan balasan surat Neeur. Sesekali dia berhenti dan menyeka air mata yang tak sanggup dibendung. Dadanya bergemuruh, mengguncang membayangkan sosok Neeur yang sangat bersih dan ikhlas menjalani takdir.

“Teman, engkau luar biasa. Jubah dirimu semakin terlihat indah. Kejujuran, tanggung jawab dan kesabaran semakin nampak terpancar dari jiwamu. Engkau jujur mencintainya, engkau tunjukan cinta itu dengan penuh tanggung jawab dan puncak kemulianmu adalah rasa sabar mengurusnya yang memiliki kekurangan.

Semua kamu lakukan hanya karena hatimu luas, sehingga cinta bisa leluasa berlarian dengan gembira, membangun kekayaan didalamnya

—***—

padepokan bara cinta

Ilustrasi from : Gambarpedia.co

“Padepokan Bara Cinta” itulah tulisan yang terpajang di pintu masuk tempat ini. Sebuah tempat yang berdiri kokoh disebuah area yang jauh dari pemukiman penduduk.. Sekelilingnya adalah hamparan pesawahan.

Terlihat lelaki tua berambut putih sedang khusyu memandikan antrian panjang manusia-manusia aneh. Dibantu oleh beberapa anak muda, pria tua tersebut memandikannya satu persatu hingga selesai semua. Tingkah laku yang aneh dari manusia-manusia ini membuat tempat ini tidak pernah sepi dari keceriaan. Ada yang menangis, ada yang selalu bernyanyi, ada yang tak henti tertawa hingga perilaku unik dengan memanjat genting dan mengejar kupu-kupu sambil berteriak.

Pria tua itu mengelilingi padepokan, melihat semua keadaan tempatnya membagikan cinta pada manusia-manusia aneh ini. Setiap pagi dia melakukan ini, ditemani istrinya yang ia dorong diatas kursi roda. Jalan-jalan sepasang suami istri yang sudah renta tersebut selalu diakhiri di sebuah gubuk sederhana di seberang barak pekerjanya. Gubuk itulah yang menjadi saksi perjuangan pria tua ini membangun padepokan “Bara Cinta” hingga besar seperti sekarang. Gubuk itu pula menjadi kenangan pahit bagaimana sahabatnya menghembuskan nafas terakhir setelah berbulan-bulan tanpa makan karena dipasung oleh sebagian oknum penduduk. Yaa dialah Barra, lelaki tua yang telah dianggap gila karena mengajarkan tentang ilmu merasakan kehadiran Allah Yang Ahad . Dia ditangkap dan dipasung di gubuk tersebut. Dia seperti seekor kucing yang dikurung dalam kandang namun tidak diberi makan.

Kejadian tersebut sampai juga ke telinga Neeur. Neeur yang waktu itu dibantu seorang pengusaha kaya, akhirnya membeli lahan seluas 2 hektar tersebut. Lahan yang kemudian dia sulap menjadi sebuah padepokan. Dia mengumpulkan semua orang gila dan menampungnya di padepokan tersebut. Ratusan orang gila menjalani kehidupannya dengan indah di padepokan tersebut. Neeur telah memanusiakan mereka layaknya manusia normal. Memberi mereka pakaian, tempat tidur yang layak, memandikan mereka hingga memberinya makan. Padepokan itulah yang kemudian disebut dengan Padepokan Bara Cinta.

—***—

“Kyai sudah tahu siapa ayah saya. Dia hanya seorang pria tua yang menampung banyak orang gila. Dan itu bukan sesuatu yang normal bagi sebagian masyarakat yang merasa normal. Apakah pa Kyai akan tetap menikahkan saya dengan putri pa Kyai, dan menjadi bagian dari keluarga saya? Apakah itu tidak akan membuat nama baik pa Kyai menjadi buruk?”, Pria tampan sederhana yang sudah hafidz 30 juz tersebut bertanya dengan sangat hati-hati pada pria berwibawa yang ada didepannya. Pria terhormat, pemilik salah satu pesantren besar di kota tersebut.

“Nak, keputusan Bapak sudah bulat. Bismillah ananda harus bersedia menjadi menantu bapak. Ananda adalah pria yang tepat untuk putri Bapak. Bukan hanya itu, ananda adalah sosok yang tepat untuk meneruskan perjuangan syiar pesantren ini. Pemahaman agama dan keluhuran budi ananda menjadi modal berharga untuk kemajuan ummat”

“Perkara Bapakmu, saya menerima dengan penuh kebanggaan. Bapakmu adalah orang hebat, bahkan lebih hebat dari saya yang katanya Kyai ini. Hatinya sangat luas, itulah kenapa begitu banyak cinta dalam hatinya. Dan cinta itu terus tumbuh subur serta menjamur. Bahkan berlarian dengan bebasnya. Nanti padepokan Bara Cinta bisa di sinergikan dengan Pesantren ini. Membagikan dan mengajarkan cinta, karena agama kita ini adalah agama cinta…”, Dengan tegas Kyai tersebut menjelaskan. Air mata pria muda ini berurai laksana air hujan yang tertumpah. Betapa dia sangat bangga memiliki seorang ayah yang penuh cinta. Bahkan karomah cinta itu pula yang membuat jalan hidupnya ternaungi sang Maha Cinta.

“Kamu benar Abah, Hiduplah dengan hati yang lapang, dengan hati yang luas. Karena dengan hati yang luas itulah cinta bisa leluasa berlarian dengan gembira, membangun kekayaan didalamnya..”, Hatinya berujar lirih sambil terisak dan membayangkan wajah Bapaknya… Abah Neeur.

—SELESAI—

author
Penulis: 
Catatan Sederhana Kang Aef

Tinggalkan pesan "Padepokan Bara Cinta"